Analysis of information sources in references of the Wikipedia article "Syiah" in Indonesian language version.
Last modified:
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Demikian pula, pedang juga ditempatkan pada berhala, sebagaimana diriwayatkan bahwa Harith b. Abi Shamir, raja Ghassanid, mempersembahkan dua pedangnya, yang disebut Mikhdham dan Rasub, kepada patung dewi Manat....perlu dicatat bahwa pedang Ali yang terkenal, yang disebut Dhu-al-Fiqar, merupakan salah satu dari dua pedang tersebut
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Pada awal abad ke-21, sekitar 10–13 persen dari 1,6 miliar Muslim di dunia adalah Syiah.
{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Bagi Muslim Syiah, Muhammad tidak hanya menunjuk ʿAlī sebagai sahabatnya, tetapi juga mengangkatnya sebagai penerus—sebagai "tuan" atau "pemimpin" komunitas Muslim baru. ʿAlī dan keturunannya kemudian dikenal sebagai para Imam, pemimpin komunitas Syiah yang mendapat petunjuk ilahi, tanpa dosa, dan dianugerahi pemahaman khusus terhadap teks Al-Qur'an. Teologi para Imam yang berkembang selama beberapa abad berikutnya hanya sedikit membedakan antara kewenangan para Imam untuk memimpin komunitas Muslim secara politik dan kemampuan spiritual mereka; bahkan, hak mereka atas kepemimpinan politik justru didasarkan pada pemahaman spiritual khusus tersebut. Secara teori, satu-satunya penguasa yang adil atas komunitas Muslim adalah Imam, tetapi para Imam secara politik berada di pinggiran setelah generasi pertama. Dalam praktiknya, Muslim Syiah mengembangkan berbagai pendekatan untuk menafsirkan otoritas atas teks-teks Islam dan pemerintahan komunitas, baik selama masa hidup para Imam maupun terlebih lagi setelah menghilangnya Imam kedua belas dan terakhir pada abad ke-9.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Bagi Muslim Syiah, Muhammad tidak hanya menunjuk ʿAlī sebagai sahabatnya, tetapi juga mengangkatnya sebagai penerus—sebagai "tuan" atau "pemimpin" komunitas Muslim baru. ʿAlī dan keturunannya kemudian dikenal sebagai para Imam, pemimpin komunitas Syiah yang mendapat petunjuk ilahi, tanpa dosa, dan dianugerahi pemahaman khusus terhadap teks Al-Qur'an. Teologi para Imam yang berkembang selama beberapa abad berikutnya hanya sedikit membedakan antara kewenangan para Imam untuk memimpin komunitas Muslim secara politik dan kemampuan spiritual mereka; bahkan, hak mereka atas kepemimpinan politik justru didasarkan pada pemahaman spiritual khusus tersebut. Secara teori, satu-satunya penguasa yang adil atas komunitas Muslim adalah Imam, tetapi para Imam secara politik berada di pinggiran setelah generasi pertama. Dalam praktiknya, Muslim Syiah mengembangkan berbagai pendekatan untuk menafsirkan otoritas atas teks-teks Islam dan pemerintahan komunitas, baik selama masa hidup para Imam maupun terlebih lagi setelah menghilangnya Imam kedua belas dan terakhir pada abad ke-9.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Bagi Muslim Syiah, Muhammad tidak hanya menunjuk ʿAlī sebagai sahabatnya, tetapi juga mengangkatnya sebagai penerus—sebagai "tuan" atau "pemimpin" komunitas Muslim baru. ʿAlī dan keturunannya kemudian dikenal sebagai para Imam, pemimpin komunitas Syiah yang mendapat petunjuk ilahi, tanpa dosa, dan dianugerahi pemahaman khusus terhadap teks Al-Qur'an. Teologi para Imam yang berkembang selama beberapa abad berikutnya hanya sedikit membedakan antara kewenangan para Imam untuk memimpin komunitas Muslim secara politik dan kemampuan spiritual mereka; bahkan, hak mereka atas kepemimpinan politik justru didasarkan pada pemahaman spiritual khusus tersebut. Secara teori, satu-satunya penguasa yang adil atas komunitas Muslim adalah Imam, tetapi para Imam secara politik berada di pinggiran setelah generasi pertama. Dalam praktiknya, Muslim Syiah mengembangkan berbagai pendekatan untuk menafsirkan otoritas atas teks-teks Islam dan pemerintahan komunitas, baik selama masa hidup para Imam maupun terlebih lagi setelah menghilangnya Imam kedua belas dan terakhir pada abad ke-9.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Demikian pula, pedang juga ditempatkan pada berhala, sebagaimana diriwayatkan bahwa Harith b. Abi Shamir, raja Ghassanid, mempersembahkan dua pedangnya, yang disebut Mikhdham dan Rasub, kepada patung dewi Manat....perlu dicatat bahwa pedang Ali yang terkenal, yang disebut Dhu-al-Fiqar, merupakan salah satu dari dua pedang tersebut
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)according to a famous hadith... 'our sixth imam, Imam Sadeg, says that we have five definitive holy places that we respect very much. The first is Mecca... second is Medina... third... is in Najaf. The fourth... in Kerbala. The last one belongs to... Qom.'
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Bagi Muslim Syiah, Muhammad tidak hanya menunjuk ʿAlī sebagai sahabatnya, tetapi juga mengangkatnya sebagai penerus—sebagai "tuan" atau "pemimpin" komunitas Muslim baru. ʿAlī dan keturunannya kemudian dikenal sebagai para Imam, pemimpin komunitas Syiah yang mendapat petunjuk ilahi, tanpa dosa, dan dianugerahi pemahaman khusus terhadap teks Al-Qur'an. Teologi para Imam yang berkembang selama beberapa abad berikutnya hanya sedikit membedakan antara kewenangan para Imam untuk memimpin komunitas Muslim secara politik dan kemampuan spiritual mereka; bahkan, hak mereka atas kepemimpinan politik justru didasarkan pada pemahaman spiritual khusus tersebut. Secara teori, satu-satunya penguasa yang adil atas komunitas Muslim adalah Imam, tetapi para Imam secara politik berada di pinggiran setelah generasi pertama. Dalam praktiknya, Muslim Syiah mengembangkan berbagai pendekatan untuk menafsirkan otoritas atas teks-teks Islam dan pemerintahan komunitas, baik selama masa hidup para Imam maupun terlebih lagi setelah menghilangnya Imam kedua belas dan terakhir pada abad ke-9.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)